Perasaan, Pikiran, Segala Rupa

Halo, Untuk Kalian!

2 November 2019, Sabtu, 18.55

Mungkin sejak dari tahun lalu, atau beberapa bulan silam, aku mulai berpikir untuk benar-benar membuat “blog serius”. Sebuah mimpi yang sudah sejak lama diimpikan saja karena sebenar-benarnya alasan yang tidak begitu penting; apa ya nama blogku nanti? Mencari nama blog seharusnya bukan sesuatu yang patut menghabiskan waktu. Yang lebih penting toh isinya, ya kan? Tapi dasar aku, yang tak bisa melewatkan barang sedikit detail yang bisa menambah romantisme segala sesuatu.

Awal tahun, sebuah iklan dari Tech In Asia muncul di timeline instagram “Resolusi 2019: Seriusin Blog Pribadi” berikut tawaran diskon kelas membuat website. Aku yang kadang impulsif untuk hal-hal yang aneh ini langsung daftar di kelas tersebut—yang sampai tulisan ini dibuat belum selesai diikuti seluruhnya (sungkem).

Di salah satu kelas-kelas awal membuat website dari Tech In Asia, menentukan nama blog adalah langkah yang harus dilewati. Aku? Tentu saja bingung dan galau dulu. Kalau menurut tipsnya tidak boleh lebih dari tiga hari memikirkannya, aku mungkin butuh tiga minggu mencari-cari. Sampai akhirnya pada saat itu aku bertemu dengan kata ini: senandika.

senandika/se·nan·di·ka/ n wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar

Pada saat membaca arti dari senandika, aku langsung merasa seperti tengah dideskripsikan tingkah lakunya oleh KBBI. Walaupun tentu saja tidak begitu. Tapi hey, adakah kata yang lebih tepat menggambarkan apa yang ingin kusampaikan dalam tulisanku selain makna dari senandika? Rasanya seperti menemukan alasan kenapa selama ini aku kebingungan; aku belum bertemu dengan senandika.

Tapi tentu akan lebih menarik kalau segala sesuatu tidak berjalan langsung semudah biasanya. Alamat webnya sudah dipakai untuk sebuah website yang bahkan tidak ada isinya. Aku sungguh kesal. Kalau tidak mau ditulisi sesuatu, tolonglah tutup saja webnya, pikirku egois.

Aku pun menyerah. Aku mesti cari nama lain.

Tapi namanya juga lagi-lagi aku. Berbulan-bulan rencanaku terhenti karena aku tidak mencari dengan serius nama lain. Sampai kemudian malam ini, aku sedang membuat list pengeluaran apa saja yang mungkin kubutuhkan bulan ini. Setelah belasan benda dan lainnya, tiba-tiba “Apa coba masukin buat website ke pengeluaran bulan ini yaaa, perkara nama nanti ajalah” dan kemudian membuka pricelist salah satu penyedia domain dan hosting untuk cek harga—untuk dimasukkan dalam list saja. Lalu tanpa berpikir apa-apa memasukkan senandika.com. And there it is. Ada di situ tanpa pemilik. Akhirnya, penundaanku membuatku bertemu kembali dengan senandika. Ternyata memang semua ada maknanya ya. Selamat membaca isi pikiran dan perasaanku! Semoga ada pelajaran dan makna yang bisa diambil.

Leave a Reply