Senandika

tulisan pikiran dan perasaan

Pikiran

Pandemi

Sejak pertengahan Maret, pandemi mulai mengubah banyak hal dalam keseharian. Dimulai dari kebiasaan orang memakai masker, mencuci tangan, berinteraksi dengan orang-orang sehari-hari. Kami (orang Indonesia) yang biasanya cukup cuek pada higienitas kolektif, mendadak dihadapkan pada situasi di mana semua orang diharuskan berusaha menjaga kebersihan terutama di ruang umum–hal yang mestinya dilakukan meskipun tanpa pandemi.

Menuju akhir Maret, perkantoran mulai memberlakukan work from home. Tentu tidak semua, tidak mungkin semua bisa. Setidaknya kantorku begitu. Orang-orang mulai semakin takut dan khawatir, mulai semakin sadar untuk tidak ke luar rumah untuk aktivitas yang tidak benar-benar perlu. Mari tidak membahas para manusia super yang tetap memilih nongkrong dan berkumpul tanpa ada urgensinya. They’re living in a different world for us to understand.

April bagiku membawa semakin jelas kepastian bahwa tahun ini, pulang saat lebaran adalah mimpi. Terlalu berisiko. Tapi di sisi lain, orang-orang Jakarta yang mulai bosan berada di dalam rumah berminggu-minggu memilih pergi ke luar dengan segala kemungkinan. Ingin mengutuk, tapi aku pun merasakan kebosanan yang teramat tidak peduli seberapa sukanya aku berada di dalam rumah. We’re in the verge of getting crazy. Perdebatan di media sosial mulai bergulir–orang terbagi pada yang tetap yakin untuk physical distancing, sebagian menjadi tergiur pada kemungkinan bahwa herd immunity adalah solusi, bahkan sebagian lagi memunculkan teori-teori konspirasi lengkap dengan konspirasi media besarnya. Aku tidak tahu ada di mana di antara ketiganya. Yang jelas masih tidak ke mana-mana jika tidak butuh tapi ingin sekali pergi ke kafe untuk baca buku sambil ngopi dan makan cake sekaligus bertanya are our leaders really doing something to get us out of this trouble or they’re just as clueless as us?

Ini benar-benar masa yang membingungkan, sebuah periode yang baru. Hampir semua orang kemungkinan besar baru pertama kali merasakan hidup di masa pandemi. Ini sungguh adalah pengalaman yang aneh dan… aneh. I can’t meet my parents and siblings but I meet my housemates more often than usual because we’re all are staying at home.

Masih tidak ada yang tahu sampai kapan pandemi ini akan berlangsung. Yang pasti masa ini akan berefek sangat jauh dan panjang. Secara individual dan komunitas. Secara emosional dan fisik. Tidak hanya ekonomi global yang akan terdampak, juga bukan hanya kehidupan finansial yang akan menjadi lebih sulit, tapi juga kesehatan mental banyak orang. Mari tetap sadar, mari tetap bertahan dengan the new normal. It’s hard to accept this as new normal but the sooner we accept, the sooner we get accustomed to it. And the better we can live with it.

Leave a Reply